Mari kembali lagi mengenal tentang metabolic syndrome dan bagaimana hubungannya dengan obat untuk pasien diabetes. Metabolic syndrome terkadang disebut juga dengan dysmetabolic syndrome, syndrome X, metabolic disease atau resistensi insulin. Resistensi insulin adalah kondisi yang sangat akrab dengan pasien diabetes dan tentu saja ada metode pengobatan atau obat tertentu untuk mengatasi kondisi tersebut.
Singkatnya bagaimana hubungan metabolic syndrome dengan diabetes adalah metabolic syndrome merupakan kondisi ketika tubuh mengalami obesitas, kadar trygliserida tinggi, kadar gula darah puasa tinggi, tekanan darah tinggi dan HDL kolesterol rendah. Ketika seseorang mengalami kondisi tersebut atau mungkin hanya 3 di antaranya maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut mengalami metabolic syndrome.
Nah, ternyata 85 persen orang dengan diabetes tipe 2 juga memiliki metabolic syndrome. Orang-orang dengan diabetes tipe 2 dan metabolic syndrome memiliki resiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibandingkan 15 persen orang dengan diabetes tipe 2 tanpa metabolic syndrome. Selain itu masih banyak resiko kondisi kesehatan serius lain yang bisa dialami orang-orang dengan metabolic syndrome.
Penyebab metabolic syndrome
Ada dua penyebab utama seseorang mengalami metabolic syndrome yaitu kelebihan berat badan atau obesitas dan kurangnya aktifitas fisik. Dalam salah satu penelitian dibuktikan bahwa olahraga satu jam selama satu minggu ternyata membantu menurunkan 29 persen resiko pertumbuhan metabolic syndrome. Dan sebenarnya metabolic syndrome adalah kondisi kesehatan yang berhubungan dengan resistensi insulin, sesuatu yang juga umum terjadi pada orang-orang dengan obesitas dan tubuh yang jarang bergerak. Resistensi insulin inilah yang membuat metabolic syndrome menjadi masalah kesehatan yang berhubungan dengan diabetes.
Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel dalam tubuh tidak merespon insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dengan mudah. Hal ini tentu yang akan menyebabkan kenaikan kadar glukosa dalam pembuluh darah dan tubuh akan berusaha untuk mengendalikan gula darah dengan cara memproduksi insulin terus menerus.
Dalam jangka waktu lama maka tubuh tidak lagi mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup untuk menjaga agar gula darah tetap normal, maka kondisi berubah menjadi diabetes. Karena seperti disebutkan sebelumnya, bahwa 85 persen diabetesi juga mengalami metabolic syndrome maka sudah pasti orang yang didiagnosa diabetes maka kemungkinan kondisi metabolic syndrome yang dialami juga lebih besar lagi.
Faktor resiko
Faktor resiko dari metabolic syndrome adalah gula darah puasa yang tinggi, tekanan darah tinggi, trygliserida tinggi dan kolesterol HDL rendah. Tetapi metabolic syndrome juga dapat tumbuh karena beberapa faktor lain seperti usia, ras, riwayat keluarga dan penyakit lainnya. Orang yang berusia di atas 60 tahun resiko metabolic syndrome-nya akan semakin meningkat. Sementara itu orang-orang Hispanic dan Asia memiliki resiko lebih tinggi mengalami metabolic syndrome dibandingkan orang-orang dari ras lain. Perhatikan juga riwayat penyakit dalam keluarga atau riwayat diabetes gestational. Resiko metabolic syndrome juga muncul pada orang-orang dengan penyakir kardiovaskular, nonalcoholic fatty liver atau polycystic ovary syndrome.
Dengan melihat banyaknya faktor resiko penyebab metabolic syndrome ini maka segera waspada jika kondisi tersebut mulai muncul. Dokter dapat mendiagnosa pasien metabolic syndrome dari serangkaian pemeriksaan fisik dan tes darah.
